Jumat, 06 Februari 2015

Separatisme di Bumi Papua



Kronologi penyerangan anggota TNI di Papua berdasarkan keterangan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono:
Pukul 09.30 WIT,  Kamis 21 Februari 2013
Pada pukul 09.30 waktu setempat, Pos TNI di Tingginambut didatangi seorang yang bernama Wendi Tabuni yang bermaksud mengunjungi komandan pos Lettu Infantri Resakita.  Wendi Tabuni ini adalah sahabatnya TNI, tetapi juga sahatnya kelompok lain.
Pukul 10.00 WIT
Setelah berbincang-bincang lebih kurang 30 menit, Wendi Tabuni meninggalkan pos dan langsung menghilang dan tidak berapa lama terjadi penyerangan dan rentetan tembakan dari segala penjuru. Diperkirakan penyerangan dilakukan oleh kekuatan GPK Papua bersenjata pimpinan Goliath Tabuni dengan kekuatan 50 orang dengan 18 pucuk senjata.
Anggota pos memberikan perlawanan dibantu pos infantri 753 terdekat dan pos brimob. Mendapat bantuan tersebut kemudian GPK Papua melarikan diri ke arah gunung. Akibat serangan tersebut 1 orang prajurit gugur atas nama Bratu Wahyu Prabowo dengan luka tembak di bagan dada kiri dan Letnan Satu Infantri Risakita Armena. Komandan pos Tingginambut mengalami luka tembak di bagian lengan kiri, terkena serpihan peluru yang meleset.
Pukul 10.30 WIT
Serangan kedua pada pukul 10.30 WIT di kampung Gigobak, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak Jaya. 11 Orang anggota TNI dari Koramil Sinak dan Yonif 753 berangkat menuju bandara dengan berjalan kaki berjarak sekitar 1,5 Km dengan berpakaian preman dan tanpa senjata untuk mengambil alat komunikasi HT dan HP Satelit yang dikirim dari Kodim Nabire. Perlu diketahui bahwa 11 orang ini bukan anggota yang sedang jaga dan bukan yang sedang melakukan patroli, tapi adalah anggota yang stand by di situ. Mengingat seperti yang kami laporkan tadi, di Sinak ada 38 orang personil, sehingga yang jaga tetap jaga dan yang patroli tetap ada, yang tidak melaksanakan tugas ini diberi tugas untuk mengambil alat komunikasi ini sehingga mengapa mereka berpakaian preman dan tanpa senjata karena kedekatan TNI dan masyarakat sekitar.
Saat melintas di Desa Gigobak, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak Jaya, rombongan tersebut dihadang oleh rombongan kelompok bersenjata yang diperkirakan oleh kelompok Yambe, dipimpin oleh Murip dan Lekaka Telenggen, dengan kekuatan massa militan lebih kurang 20 orang dengan senjata 4 pucuk, markas di kampung Yambe.
Setelah melakukan penghadangan GPK Papua melarikan diri ke arah sungai dan menghilang.
Akibat penyerangan tersebut 7 anggota TNI dan 4 masyarakat sipil meninggal dunia dan 1 orang luka kritis. Nama yang gugur dari Koramil 1714 ada 3 orang: Sertu Frans Hera, Sertu M Udin dan Sertu Epi Juliana. Sementara dari personil Yonif 753 terdapat 4 personil gugur atas nama Sertu Ramadhan Amang, Pratu Mustopa, Praka Jojo Miharja dan Praka Winfred.
Adapun 4 warga masyarakat sipil juga turut tertembak dan meninggal serta 1 orang kritis atas nama: Yohanes Palimbong, Markus Kafin, Uli dan Rudi. Sedangkan Yohanes Joni masih dalam keadaan kritis.
Atas kejadian tersebut aparat TNI khususnya tim 1714 mengambil langkah sebagai berikut: memberangkatkan 21 orang anggota TNI pasukan gabungan yang terdiri dari 9 orang anggota TNI 753 dipimpin oleh Lettu Infantri Didi Irawan, 7 orang anggota Yonif 751 dipimpin Lettu Infantri Hermianto dan 5 anggota sargas pantauan 10 dipimpin oleh Lettu Infantri Rizal yang menuju ke Tingginambut dan melaksanakan evakuasi korban yang tertembak pada saat kontak tembak dengan kelompok bersenjata GPK Papua.
Selain itu Kodim 1714 juga memberangkatkan 14 orang anggota TNI gabungan terdiri dari 6 orang anggota Yonif 753 dan 5 orang anggota kodim pimpinan Infantri Prabowo. Dari Mulia menuju Tingginambut untuk perkuatan bantuan evakuasi karena masih terjadi kontak tembak dan mempersiapkan rencana evakuasi.
Jumat, 22 Februari 2013
Penyerangan ke-3 pada tanggal 22 Februari pukul 08.00 WIT, di saat heli Super Puma TNI AU baru saja mendarat di Bandara Sinak untuk melaksanakan evakuasi korban. Terjadi penembakan terhadap heli Super Puma ini dari jarak 300 meter oleh seorang anggota GPK bersenjata Papua. Akhirnya evakuasi tak jadi dilaksanakan dan heli Super Puma kembali.
8 Prajurit TNI Gugur






Dari dua serangan itu menyebabkan 8  Prajurit TNI gugur diberondong peluru GPK yang  diduga dari kelompok Goliath Tabuni dan Yambe.  Tingginambut yang berjarak 20 Km dari Kota Mulia, Puncak Jaya, Papua, merupakan daerah yang tergolong rawan. Di daerah itu terdapat markas kelompok bersenjata.
“Gerombolan pengacau yang ada di sini kelompok Goliath Tabuni dengan kekuatan sekitar 50 orang,” ujar Panglima TNI”.
Begitu juga dengan wilayah penyerangan di Kabupaten Sinak,  yang terletak sekitar 40 km dari Tingginambut, merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Puncak Jaya.  Daerah SInak rawan dan merupakan daerah operasi pengamanan dari korps TNI.
Reaksi Amerika Serikat
“Kami memandang Papua sebagai bagian dari wilayah Indonesia, jadi kami tidak mendukung gerakan separatis atau gerakan kemerdekaan di Papua,” kata Duta Besar AS untuk Indonesia, Scot Marciel, di kediamannya di Jakarta, Selasa (11/9).
AS, kata Marciel, juga mendukung dilakukannya dialog oleh pemerintah Indonesia dengan rakyat Papua. “Selain itu kami juga mendukung adanya penjagaan (untuk keamanan) di Papua,” tambah Marciel.
Seandainya terdapat dugaan-dugaan pelanggaran HAM di Papua, kata Marciel, AS berharap dugaan-dugaan tersebut diinvestigasi. Marciel menambahkan, AS tidak memandang isu pemisahan diri Papua sebagai isu yang mesti melibatkan AS lebih dalam.
“Ini bukan isu yang mengharuskan kami ikut campur sangat dalam. Ini adalah isu internal Indonesia,” kata Marciel.Meskipun demikian AS akan terus melanjutkan dukungan untuk pembangunan Papua.
“Kami akan terus mempromosikan pembangunan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan di Papua,” ujar Marciel. Ditanya rencana pemindahan ribuan pasukan angkatan laut AS dari Okinawa ke Guam, Marciel menyangkal jika hal itu dilakukan AS untuk mempersiapkan invasi ke Papua.
“Sama sekali tidak ada dalam benak pemerintah AS melakukan hal itu (pengerahan pasukan) untuk mengganggu Indonesia. Itu adalah hal yang di luar imajinasi kami,” katanya.
“Indonesia adalah teman bagi Amerika. Saya tidak habis pikir mengapa orang berpikir kami akan melakukan sesuatu yang tidak bersahabat kepada Indonesia,” tambah Marciel.
AS akan terus menjalin kerja sama militer dengan Indonesia. Marciel mengatakan kerjasama tersebut meliputi aktivitas bersama seperti latihan militer, pertukaran pakar militer, sampai kegiatan saling mengunjungi.






Munculnya gerakan separatisme di tanah Papua sebenarnya telah dicarikan solusinya oleh Pemerintah melalui Otonomi Khusus (Otsus) Papua. Melalui Tim Otsus Papua, dengan pelimpahan dana Rp 30 triliun serta dana reguler lainnya  diharapkan keinginan Papua untuk mempercepat pembangunan terealisasi.   Namun berdasarkan laporan audit BPK ditemukan adanya bantuan yang belum sampai ke rakyat.
Wakil Ketua DPR RI Priyo Budi Santoso mengatakan DPR akan melakukan  evaluasi, mengenai penyebab mandeknya operasional Otsus Papua.
Otonomi Khusus Papua harus diterapkan dengan benar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua, namun insiden penembakan yang menewaskan 8 TNI dan 4 Warga sipil  tidak bisa ditolerir karena pelanggaran berat dan perbuatan keji melawan alat-alat negara. Apaarat keamanan masih mengejar kelompok bersenjata yang melakukan pembunuhan dan tim gabungan Polri-TNI yang terus melakukan investigasi.
Negara dan bangsa Indonesia terbentuk dari sebuah perjuangan yang panjang dan meletihkan  baik secara fisik maupun  ideologi. Kini  kemufakatan yang dituangkan dalam bentuk negara dengan tatanan dasar filosofi  bangsa berdasarkan asas-asas kebhinekaan, kembali diuji.( JKGR).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar