Loading...

Minggu, 15 Februari 2015

KAPOLDA PAPUA : TENTANG PENYERANGAN OPM :

KAPOLDA PAPUA : TENTANG PENYERANGAN OPM :
Kamis, 19 Maret 2009 









Kronologis Kejadian Berutun yang dilakukan OPM di Kabupaten Puncak Jaya

JAYAPURA-Kelompok separatis bersenjata atau gerombolan Organisasi Papua Merdeka (OPM) bersenjatakan parang dan kapak menyerang Pos Polisi Tingginambut, Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua, Kamis (8/1) sekitar pukul 21.00 WIT. Akibat penyerangan yang berlangsung cepat itu, 4 ( Empat ) Pucuk Senpi Laras Panjang terdiri dari Jenis SS1 V1 ( Tiga Pucuk ) dan SS1 V2 Sabhara ( Satu Pucuk ), magasin dengan peluru sebanyak 61 butir  milik anggota polisi yang bertugas di Pos Pol Tingginambut tersebut dirampas dan dibawa kabur pelaku. Tidak hanya itu, Ivana Helan (21), istri anggota Pos Pol bernama Bripda Yan Pieter Aer mengalami luka tikam di dada sebelah kiri hingga tembus ke belakang. Korban setelah setelah mendapat perawatan intensif di RSUD Mulia kemudian diberangkatkan ke Jayapura guna mendapatkan perawatan medis. Korban dirawat RS Bhayangkara, Kotaraja, Abepura. Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Papua, Irjen Pol FX Bagus Ekodanto mengatakan “Kejadiannya, malam pukul 21.00 WIT dan baru dilaporkan Jumat (9/1) pagi pukul 07.30 WIT oleh masyarakat ke Pos Brimob yang diteruskan ke Mapolres Puncak Jaya,”. Polisi tengah mengejar pelaku penyerangan Pos Pol Tingginambut tersebut dari Polres Puncak Jaya dan Brimob yang telah tiba di TKP sekitar pukul 08.30 WIT, dan langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Pasca penyerangan di Pospol (Pos Polisi) Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya, Kapolda Papua Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodanto, (10/1), meninjau langsung Tempat Kejadian Perkara (TKP). Kapolda Papua dalam kunjungannya didampingi Direskrim Polda Papua, Dansat Brimob Polda Papua, Dir P3D Polda Papua, Kasat 4 Intelkam Polda Papua. Rombongan Kapolda Papua beserta rombongan beserta Bupati Puncak Jaya menuju Distrik Tingginambut. Setibanya di TKP Kapolda melihat kondisi Pospol Pasca penyerangan. Di sini Kapolda sempat mendapat laporan dari dua anggota Pospol yang juga saksi atas kejadian penyerangan tersebut. Selain itu, juga dilakukan olah TKP oleh aparat dari Reskrim Polda Papua dan Polres Puncak Jaya. Seusai mengunjungi Pospol Tingginambut Kapolda Papua Irjen Pol Drs FX. Bagus Ekodanto dan Bupati Puncak Jaya Lukas Enembe SIP, melakukan pertemuan dengan para Kepala Kampung, Kepala Suku, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, dan Tokoh Perempuan di halaman kantor Distrik Tingginambut. Dihadapan masyarakat Kapolda Papua meminta agar dapat selalu menjaga semua fasilitas yang telah di siapkan oleh pemerintah seperti pospol karena bangunan ini dibangun untuk menjaga keamanan dimasyarakat. Kapolda juga meminta kepada masyarakat agar dapat memberikan informasi kepada pihak keamanan maupun pemerintah mengenai keberadaan empat pucuk senjata yang di curi oleh masyarakat pada saat penyerangan Pospol, Kamis (8/1). "Kalau ada masyarakat yang lihat senjata tolong beritahukan kepada pihak keamanan atau pemeritah untuk dikembalikan" pinta Kapolda Papua. Mengenai upaya pencarian senjata yang hilang, Kapolda Papua mengatakan, pihaknya akan menyerahkannya terlebih dahulu kepada pihak keluarga untuk melakukan pendekatan secara kekeluargaan dalam mencari keberadaan empat pucuk senjata yang diambil pada penyerangan Pospol Tingginambut. "Kita melakukan pendekatan sacara damai, dan kita serahkan dulu kepada tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, untuk bisa berbuat lebih dahulu sebelum kami mengambil langkah yang lain". Pihaknya memberikan himbauan kepada masyarakat untuk dapat membantu aparat untuk menemukan senjata yang diambil. "Kami tetap memberikan waktu selama tiga minggu kepada pihak masyarakat untuk membantu aparat dalam menemukan dan mengembalikan senjata yang di bawa, karena barang tersebut belum dibawa pergi jauh tapi masih disekitar daerah ini".

Ke depan pihaknya akan menaikan status dari Pospol Tingginambut menjadi Polsek. Kapolda juga menjelaskan bahwa dengan adanya kejadian penyerangan ini pihaknya tidak akan akan memberikan jarak kepada masyarakat dalam pelayanannya. "Polri dengan TNI tidak membatasi jarak dengan masyarakat, namun dari kejadian ini menunjukan adanya kepentingan oknum atau kelompok tertentu yang memanfaatkan situasi dengan kedekatan hubungan masyarakat dengan aparat".

"Kapolda Papua memberi batas hingga tiga minggu kepada para Tokoh Masyarakat, Adat, dan Agama agar dapat mengatasi permasalahan ini", kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Drs. Agus Riyanto. Situasi di Puncak Jaya pasca kejadian tersebut, sudah aman terkendali. Menurut Agus Fakaubun, Pegawai Negeri Sipil Puncak Jaya mengatakan, setelah penyerangan di Pos Polisi Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, aktivitas masyarakat dan aktivitas kantor sudah berjalan dengan normal.

Disinggung soal apakah kejadian ini terjadi karena terlalu bebasnya masyarakat masuk ke dalam pos polisi Tingginambut, Kapolda menambahkan, sebenarnya memang tidak ada jarak dengan masyarakat. Dalam arti, Polri dan TNI tidak membatasi diri dengan masyarakat. Hanya masalahnya sekarang bahwa ada oknum yang seharusnya tidak terjadi dan karena kepentingan kelompok tertentu telah memanfaatkan dari pada hubungan masyarakat yang sudah terjalin selama ini dengan polisi. Misalnya, apa yang dimiliki di pos polisi, baik televisi dan radio yang bisa digunakan maka masyarakat juga bisa menggunakannya. Terkait penggalangan yang telah dilakukan selama ini, pihaknya akan tetap melanjutkan upaya itu, kepada mereka, khususnya kelompok ini untuk turun bersama-sama membangun daerahnya dan kembali ke NKRI. “Karena kita sudah membangun lebih maju, namun kalau mereka masih mengelompokkan sendiri bahwa ingin melepaskan diri dari NKRI, maka itu sesuatu hal yang mustahil,”katanya.

Sementara itu, Bupati Lukas Enembe, S.IP mengungkapkan, pihaknya sudah sepakat dengan seluruh komponen yang ada disini supaya bagaimana caranya senjata yang dirampas bisa harus kembali dalam waktu singkat. "Kalau memang kami tidak mampu mengembalikan dengan cara itu, maka kami akan mengembalikan kepada pihak TNI/Polri untuk melakukan sesuai kewenangan mereka karena memang kita tidak mampu mengembalikannya," tandasnya.

Wakil Gubernur Papua, Alex Hesegem, SE. Wagub meminta agar pihak yang membawa lari senjata milik polisi tersebut, segera dikembalikan. Selaku Wagub dan juga tokoh masyarakat dari Pegunungan Tengah, Alex Hesegem minta saudara-saudara yang telah membawa lari senjata milik anggota Polri ini bisa segera mengembalikan kepada pemerintah, lewat jalur gereja maupun pemerintah kampung. Terkait kejadian tersebut, Wagub juga mengaku sudah minta kepada pemerintah Kabupaten Puncak Jaya untuk pro aktif melakukan pendekatan agar senjata-senjata milik anggota Polri tersebut dikembalikan, tanpa harus ada kontak fisik. “Kita juga sebenarnya bisa langsung serahkan polisi dan tentara untuk cari sendiri, tapi yang saya takutkan bila aparat harus mencari sendiri dengan melakukan penyisiran bisa menimbulkan salah pengertian antara masyarakat dan aparat sehingga bisa timbul jatuh korban lagi,”ujar Wagub yang berharap senjata tersebut segera dikembalikan. Wagub berharap jalur gereja maupun pemerintah kampung bisa menjadi mediasi untuk penyerahan kembali senjata. Lebih lanjut Wagub Alex Hesegem juga menghimbau pada kelompok masyarakat orang-orang yang masih mengatasnamakan TPN/OPM supaya tidak ganggu rakyat Papua dan pemerintah yang sedang bersama-sama membangun dari kampung. "Sebaiknya mari semua ikut bergabung, jangan suka ganggu, sebab pada dasarnya perjuangan yang dilakukan adalah sama untuk membangun dan mensejahterakan rakyat Papua", tandasnya. Untuk itu, tidak hanya bagi orang-orang Papua yang ada di luar negeri maupun yang saat ini masih tinggal di hutan-hutan, kembali bergabung dengan masyarakat Papua. Tidak perlu takut, sebab Pemerintah RI sudah membuka diri untuk menerima, asalkan sungguh-sungguh sadar untuk kembali setia pada NKRI dan mau berbuat baik untuk membangun bersama daerah Papua ini. "Kalau terus sembunyi dan curi senjata, siapa pun tidak pernah mendukung. Tanah Papua ini Tanah yang diberkati, Tanah Damai, tidak boleh ada yang tumpahkan darah, yang tumpahkan darah harus dikutuk. Karena ini mewujudkan Papua Tanah Damai ini merupakan tangung jawab kita bersama pada Tuhan." pungkasnya.

Sementara itu, terkait penyelidikan yang dilakukan pihak Polres Puncak Jaya dan Reskrim Polda Papua saat ini masih dalam tahap penyelidikan. Kapolres Puncak Jaya, AKBP. Chris Rihulay, SSt.Mk, pihaknya saat ini sedang memeriksa beberapa saksi, yaitu istri Briptu Felix (Kapospol Tingginambut), Bripda Bob Simamora, seorang guru kontrak dan 2 orang masyarakat yang melihat kejadian dan akan tetap mencari saksi-saksi lainnya guna memperkuat bukti kemudian akan mengembangkannya. "Kami telah memintai keterangan saksi-saksi terkait 4 orang pelaku (Dekiles CS) yang diduga telah mengambil senjata dan melukai korban, namun dugaan itu harus dikuatkan dengan bukti kuat,". Namun demikian, jelas Kapolres, pihaknya masih tetap melakukan langkah-langkah persuasif dengan pendekatan melalui tokoh agama, adat, pemuda dan masyarakat sesuai dengan deadline yang diberikan Kapolda Papua selama 3 minggu. Sedangkan untuk penyelidikan akan tetap berjalan sesuai aturan yang berlaku karena akan memperkuat bukti-bukti yang ada. Kasus penyerangan Pos Polisi Tingginambut, membuat Polda Papua khususnya Polres Puncak Jaya tak mau kecolongan lagi. Untuk itu Polres Puncak Jaya menempatkan 8 orang anggotanya ditambah 5 orang anggota Brimobda Papua BKO Polres Puncak Jaya untuk mengantisipasi situasi yang tidak diinginkan terjadi.

Kelompok separatis bersenjata yang tergabung dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM), Jumat (16/1) sekitar pukul 10.00 WIT menghadang anggota Brimob yang sedang menuju Mulia, ibukota Kabupaten Puncak Jaya. Dalam penghadangan itu satu anggota OPM mengalami tembak atas nama Yendenak Wonda. Insiden itu bermula dari kegiatan yang dilakukan anggota Brimob yakni melakukan pemetaan lokasi markas OPM Kamis malam sekitar pukul 22.00 WIT, saat anggota Brimob bersama anggota Densus 88 yang berlokasi di Tinggi Neri. Saat berada di Tinggi Neri, yang berjarak sekitar dua jam berjalan kaki, anggota Brimob ditembaki dengan OPM dan membalas sehingga terjadi baku tembak selama beberapa saat. Anggota Brimob memutuskan kembali ke Tingginambut dan keesokan paginya kembali ke Mulia. Saat kembali ke Mulia itulah anggota Brimob dihadang dan terjadi baku tembak yang menewaskan Wenda Muli dan melukai Yembinas Murib. Menurut Kabid Humas Polda Papua, Kombes Agus Riyanto, penembakan terhadap Wenda dilakukan karena kelompok penyerang ini sempat menghadang patroli Polisi. “Mereka bahkan berusaha menembak polisi dengan senjata yang dirampas, tetapi tidak meledak karena kunci tidak di buka. Anggota kita lalu menembak Wenda dan melumpuhkan beberapa anggota kelompok lainnya,”. Kabid Humas Polda Papua membantah informasi yang menyebutkan telah terjadi pembakaran rumah warga di kampong Tingginere, Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncakjaya. “Tidak benar ada pembakaran rumah warga dan penjarahan ternak milik warga,”. Menurutnya, Polisi sudah mengumpulkan sejumlah bukti tentang kelompok penyerang dan perampas senjata di pos polisi Tingginambut, Kapolda Papua Irjen Bagus Ekodanto juga meminta warga segera mengembalikan senjata yang dirampas. Tetapi belum bisa memastikan apakah benar kelompok penyerang itu adalah Organisasi Papua Merdeka. “Kita masih akan kumpulkan bukti-bukti kuat apakah mereka benar anggota OPM,”.

Sementara Direktur Reskrim Polda Papua, Kombes Paulus Waterpauw (saat itu) mengatakan, situasi Tingginambut sudah aman. Tetapi masyarakat masih merasa resah karena ulah anggota TPN-OPM. “Polisi sudah punya bukti, termasuk korban yang sudah di bawa ke Jayapura. Dia mengaku sebagai pelaku perampasan senjata,” kata Paulus. Kapolda Papua Irjen Pol Bagus Ekodanto mengatakan, pihaknya akan mengirimkan tim yang terdiri atas Propam, Intelkam dan lainnya ke Mulia untuk menyelidiki insiden tersebut. Dari hasil tim itulah baru akan diputuskan apakah pihaknya akan melakukan pengejaran mengingat sebelumnya atas permintaan dari tokoh masyarakat agar memberi waktu kepada mereka untuk membantu mencari senjata yang dirampas saat menyerang Pos Polisi di Tingginambut (3/1). “Kami belum memutuskan apakah tetap memberikan waktu tiga minggu sesuai permintaan para tokoh masyarakat dan kepala suku atau tidak,” ungkap Kapolda Papua Irjen Pol Bagus Ekodanto. Menurutnya, insiden baku tembak antara kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) dengan anggota Brimob berawal dari saat anggota melakukan patroli dekat markas OPM di Tinggi Neri, Kamis ( 15/1) sekitar pukul 22.00 WIT. Saat mendekati markas OPM, anggota ditembaki gerombolan OPM, namun setelah membalas dan mendapati markas mereka ternyata sudah kosong, sehingga anggota kembali keesokan paginya. Namun, kata Kapolda Papua, di sekitar sungai anggotanya ditembaki hingga kembali terjadi baku tembak. Dalam kontak senjata itu salah seorang anggota OPM tertembak. Kapolda Papua mengakui, anggota OPM bernama Yendenak Wonda yang tertembak itu saat ini dirawat di RSUD Mulia dan dijadwalkan Senin (19/1) dievakuasi ke Jayapura.

TPN/OPM meningkatkan aktifitasnya, terutama di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, Papua.TPN/OPM merobek dan membakar bendera merah putih. Peristiwa ini, terjadi di atas gunung, berjarak sekitar 500 m dari Pos Polisi dan Kantor Distrik Tingginambut, Sabtu (21/2) pukul 14.00 WIT. Tak hanya itu, TPN/OPM dari kelompok Goliat Tabuni ini, juga melakukan penembakan terhadap pos pol Tingginambut dari jarak jauh dan mengenai atap seng pos pol tersebut, namun tidak menimbulkan korban jiwa. Tentang insiden ini, Kapolda Papua, Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodantomengatakan,"mereka mengambil bendera dan membakarnya. Mereka juga sempat menembaki pos pol namun hanya mengenai atap sengnya saja," katanya. Kapolda mengatakan, tindakan anggota TPN/OPM ini sudah kategori sangat membahayakan masyarakat setempat dan anggotanya, sehingga pihaknya akan melakukan tindakan tegas. Diakui bahwa masyarakat melaporkan kalau mereka juga diintimidasi TPN/OPM tersebut, bahkan TPN/OPM juga dilaporkan melakukan pencurian terhadap bahan makanan milik penduduk setempat. Bahkan TPN/OPM tersebut berdasarkan laporan masyarakat juga melakukan pemerkosaan terhadap penduduk setempat. Sementara itu, adanya informasi bahwa anak buah Goliat Tabuni sering membuat resah masyarakat, Ketua Sinode GIDI (Gereja Injili di Indonesia) Papua, Pdt Lipiyus Biniluk STh mengakui belum mengetahui secara persis. Hanya saja, ia mengakui bahwa anak buah Goliat Tabuni sering turun ke jalan utama yang menghubungkan Mulia, Puncak Jaya dengan Wamena, Jayawijaya. "Mereka sering turun di jalan besar, tepatnya daerah Tinggineri, Distrik Tingginambut, namun laporan yang saya terima belum berulah menghadangi sopir-sopir yang lewat dan belum mengganggu dan masih aman terkendali,"' ujarnya. Meski demikian, Pdt Lipiyus meminta agar Goliat Tabuni dan anak buahnya tidak mengganggu masyarakat yang sedang menunggu pesta demokrasi, pemilu 2009. Ketua Sinode mengungkapkan pihaknya saat ini sedang berupaya mengirimkan beberapa pemuda ke tempat-tempat seperti itu untuk menyampaikan pelayanan pembinaan kerohanian, bahkan para pemuda itu telah masuk ke daerah tersebut dan saat ini telah berjalan dengan baik sebagai upaya dari pihak gereja untuk melakukan pembinaan kerohanian. Ketua Sinode mengakui bahwa pihak gereja sudah berupaya melakukan hal tersebut, namun hingga sekarang belum berhasil, meski begitu pihaknya belum menyerah. Ia juga menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk menjaga keamanan bersama menjelang pelaksanaan pemilihan umum yang akan digelar April 2009.

Kapolres Puncak Jaya, AKBP. B Chris Rihualy menceritakan, saat itu 3 orang anggota Pos Polisi Tingginambut, Briptu Otto Binur, Bripda Rudolf Rumbiak dan Bripda Wiliam Faidiban tepat pukul 10.30 WIT berangkat ke gunung Yonggum menancapkan bendera merah putih. Usai menancapkan bendera merah putih, ketiganya kembali ke pos, namun di perjalanan sempat direntet tembakan 6 kali. Bahkan berselang 1 jam setelah mereka tiba di pos, anggota pos polisi melihat sekelompok TPN/OPM (berkisar 6 orang) menurunkan, mencabut, merobek sekaligus membakar merah putih. Tak hanya itu, kelompok TPN/OPM juga mengeluarkan tembakan sebanyak 2 kali ke arah pos polisi yang kemudian langsung dibalas tembakan 2 kali oleh anggota pos polisi ke arah kelompok tersebut. Tidak ada korban jiwa dalam aksi baku tembak tersebut. Saat kejadian, tambah Kapolres, saksi mata yang melihat aksi kelompok tersebut adalah Kapolpos Tingginambut bersama 7 anggotanya yang siap di Mako Pos Polisi. Kapolres mengungkapkan, langkah yang dilakukan oleh pihaknya adalah memerintahkan Wakapolres, Kasat intel, Kasat lantas, Kanit P3D, anggota reskrim dan anggota Brimob langsung terjun ke lapangan guna melihat situasi di lapangan dan selalu meningkatkan kewaspadaan di lapangan yang dibantu dari satuan Brimob Polda Papua BKO Polres Puncak Jaya.

Kelompok tersebut juga membakar bendera merah putih yang ditancapkan Pos TNI Satgas Rajawali Yonif 754/ENK, berjarak sekitar 400 m, Minggu (22/2) pukul 10.40 Wit. Pabung Puncak Jaya, Kapten Inf. Junaid mengatakan, menurut informasi yang diterimanya, ada 10 orang kelompok TPN/OPM pimpinan Goliat Tabuni dengan menggunakan senjata melintas melalui Kampung Monia menuju Kampung Puruge dan tiba di ketinggian 400 m dari pos TNI dan membakar bendera merah putih. Setelah membakar bendera, kelompok tersebut langsung melarikan diri ke arah Kampung Monia, Distrik Tingginambut. Peristiwa tersebut langsung dilihat Danpos 754/ENK, Letda Inf. Dedi. "Peristiwa pembakaran bendera merah putih yang dilakukan oleh kelompok TPN/OPM dilakukan 2 kali dalam 2 hari juga yaitu Sabtu (21/2 dan Minggu 22/2),"jelasnya. Ditambahkan, telah terjadi pemerkosaan oleh salah satu kelompok TPN/OPM terhadap seorang wanita asal Kampung Nalime yang melintas kemudian korban melaporkan kepada suaminya (AM). Mendengar istrinya diperkosa kelompok TPN/OPM, AM pergi menuju Kampung Berime, Distrik Tingginambut guna mencari pelaku dengan bersenjata parang. Sebelum tiba di Kampung Berime (sekitar 200 m) AM dihadang 15 orang bersenjata dan menodongkan senjata ke arah AM, serta menanyakan apa keperluaannya, namun AM langsung mengayunkan parangnya dan mengenai tangan salah satu kelompok TPN/OPM itu. Akibatnya, tali sandang senjata putus dan senjata tersebut terlepas kemudian langsung dibawa lari oleh AM ke arah Kampung Gurage untuk diserahkan kepada Pos TNI 754/ENK Gurage. Namun naas bagi AM, di tengah perjalanan ia kembali dihadang dan dianiaya tepatnya di jembatan besi (sekitar 1 km dari pos TNI 754/ENK Gurage). Melihat kejadian itu, masyarakat langsung membantu, namun pelaku melarikan diri. Selanjutnya korban dilarikan ke pos TNI 754/ENK Gurage guna mendapatkan perawatan medis.

Sementara itu, Bupati Kabupaten Puncak Jaya, Lukas Enembe, S. sangat menyangkan kejadian tersebut. Dikatakan, peristiwa ini merupakan tindakan kriminal dan telah mengganggu kedaulatan negara RI, dalam arti bendara yang sah yaitu bendera merah putih mengapa ada orang yang merobek-robek dan membakarnya. "Peristiwa ini sangat memalukan karena dilakukan tidak jauh dari pos-pos keamanan, baik TNI maupun Polri yang bertugas di Tingginambut, oleh karena itu, tindakan ini merupakan kriminal besar yang dilakukan orang yang tidak bertanggungjawab,"ungkapnya. Menurutnya, tindakan selanjutnya yang harus dilakukan oleh pihak keamanan khususnya polisi adalah persuasive, sehingga tidak mengganggu proses pesta demokrasi (pemilu) yang tinggal hitungan hari lagi. Sebab jika dilakukan tindakan atau cara lain, maka tidak akan menyelesaikan persoalan, malah yang ada akan menimbulkan persoalan baru mengingat peluang terjadinya konflik sangat kuat dikarenakan kegiatan nasional yaitu proses pemilu sudah dekat. Untuk itu, pihaknya menghimbau kepada pihak keamanan kalau sudah mengetahui pelakunya, maka bisa mengejar dan menangkapnya. Bupati mengakui, memang pelaku adalah segelintir orang yang tidak mengerti tujuan apa yang diperjuangkan itu, oleh karena itu, bupati berharap agar mereka (kelompok TPN/OPM) bisa kembali ke dalam pangkuan ibu pertiwi dan mengabdi sebagai warga negara biasa, karena pemerintah RI dan Pemkab Puncak Jaya akan siap memfasilitasi mereka. Dengan demikian, tambah bupati, harus ada pertobatan yang bertujuan untuk kembali menjadi rakyat Indonesia serta tidak mengganggu rakyat lagi. Ditanya soal penyelesaian seperti apa yang diharapkan, bupati mengungkapkan, peristiwa tersebut diserahkan kepada pihak keamanan karena untuk menjaga stabilitas keutuhan NKRI ada di tangan mereka (TNI/Polri), tapi alangkah baiknya jika dilakukan tindakan persuasif mengingat proses pemilu sudah di depan mata.

Jika sebelumnya, membakar bendera kebesaran RI (merah putih) yang ditancapkan di atas gunung berjarak sekitar 500 meter dari Pos Polisi dan Kantor Distrik Tingginambut, maka kali ini aksinya makin membayakan. Jumat (27/2) kemarin, dari Gurage, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, terjadi penembakan yang diduga dilakukan TPN/OPM pimpinan Goliat Tabuni terhadap seorang penumpang mobil L200 DS 8800 GA bernama Andreas. Korban hendak melakukan perjalanan dari Mulia menuju Wamena. Kapolres Puncak Jaya, AKBP. Chris Rihulay mengatakan,"Kami mendapatkan laporan bahwa telah terjadi penembakan yang diduga dilakukan oknum TPN/OPM terhadap seorang penumpang mobil L200 Strada saat dalam perjalanan menuju Wamena tepatnya di Gurage,". Kapolres menceritakan, peristiwa tersebut terjadi berawal dari seorang tukang ojek bernama Anwar yang saat itu melintas di Gurare, Distrik Tingginambut kemudian saat dalam perjalanan tukang ojek tersebut ditembak sebanyak 4 kali oleh kelompok TPN/OPM, beruntung peluru yang keluar dari senjata tersebut tidak mengenai tukang ojek, namun motornya tersebut masuk jurang. Berselang berapa menit kemudian, sebuah mobil L200 melintas dan hal yang sama terjadi. Kelompok TPN/OPM menembaki mobil tersebut sebanyak 4 kali dan naas bagi korban bernama Andreas peluru yang ditembak mengenai daun telinga sebelah kanan korban. "Kejadian ini akan tetap kami telusuri dan mencari pelakunya, karena dengan melihat kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini, maka kami tetap meningkatkan kewaspadaan dan pengamanan khususnya di titik rawan," ujarnya.

Selasa, 10 Maret 2009 jam 08.45 WIT terjadi penghadangan dan penembakan terhadap masyarakat yang bekerja sebagai tukang ojek yang sedang membawa penumpangnya dengan tujuan Distrik Illu, tempat kejadian perkara di Kali Semen Puncak Senyum Distrik Mulia kabupaten Puncak Jaya sekitar 2 kilometer dari Mulia, ibu kota Puncak Jaya. Akhibat dari kejadian tersebut, 2 orang meninggal dunia di TKP dan 2 korbannya mengalami luka-luka. Korban meninggal atas nama Zainal, 25 Tahun, mengalami luka tembak pada rusuk kanan tembus rusuk kiri dan luka tusuk di leher sebelah kiri dan tulang pipi kanan patah, juga terdapat luka tusuk di telinga kanan, sedangkan korban meninggal lainnya atas nama Ach. Solihan mengalami luka tembak pada lengan kanan dan luka kena kampak pada rahang mulut sedangkan korban yang megalami luka-luka atas nama Lince Telengen, 19 tahun, mengalami luka tembak pada kening dan Yogile Kiwo, 30 tahun mengalami luka tembak pada tangan kanan atas dekat siku. Keduanya selamat dan dievakuasi dan dirawat di RSUD Mulia Menurut keterangan saksi korban, Lince dan Yogile, dikatakan, tukang ojek dan para penumpangnya dicegat oleh sekitar 10 orang dengan wajah dipoles arang sehingga sulit dikenali. Kelompok bersenjata itu diduga merupakan perampas senjata milik polisi di Tingginambut, Puncak Jaya, pada Januari lalu. Kelompok tersebut mengeluarkan senjata api dan senjata tajam serta memberondong keempat korban. korban tukang ojek atas nama Zainal dengan menggunakan kendaraan roda dua (GL Max) membawa penumpang atas nama Yugele Kiwo tujuan ke Kampung Wonegelo (arah ke Puncak Senyum), setelah sekitar 30 meter melewati jembatan di Kampung Wondegobak muncul puluhan orang dari arah kanan (posisi di ketinggian) dan dari arah kiri jalan (jurang sungai) sambil mengeluarkan tembakan. Ttembakan pertama langsung mengenai penumpang ojek di bagian bawah siku kanan dan penumpang tersebut langsung tiarap di bahu jalan sebelah kiri bahkan sempat melihat korban (Zainal) jatuh ditanah, sehingga langsung berlari ke arah Kota Mulia sambil mendengarkan suara tembakan berulang kali. Selang beberapa menit, korban atas nama (Solehan) dari arah Kota Mulia menuju Puncak Senyum dengan menggendaraain motor langsung mendapatkan serangan dari TPN/OPM tersebut. Mobil L200 Strada DS 8432 DY tujuan Wamena juga mendapat tembakan beberapa kali sehingga melukai penumpang atas nama Lince Telenggen namun mobil tersebut terus melaju ke arah Puncak Senyum dan berhenti di Pos TNI Yonif 754/ENK. Menurut pengakuan dari Yugele Kiwo (penumpang ojek yang selamat), kejadian tersebut berlangsung sangat cepat dan pelaku sangat banyak. Bahkan muncul dari 2 arah. Tak hanya itu, pelaku memakai arang di wajahnya dan pelaku sebagian membawa senjata tradisional.

Jenazah Solihan dan Zainal diberangkatkan ke tempat asal mereka, Madura, Jawa Timur. Kepolisian Daerah Papua mengirimkan tim Detasemen Khusus 88 dan tim Direktorat Reserse Kriminal guna membantu penyelidikan kasus ini. ”Hingga kini kami tetap waspada jika sewaktu-waktu mereka (kelompok bersenjata) melakukan penyerangan ke kota,” ujarnya. Kapolda Papua Irjen Pol Drs. FX Bagus Ekodanto, menegaskan bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan pengejaran terhadap pelaku. "Kami sekarang sedang berupaya untuk mengejar pelaku penghadangan dan penembakan terhadap 4 warga sipil, dimana 2 diantaranya tewas itu,". Terkait aksi kelompok bersenjata yang kini sudah berani untuk beraksi mendekati Mulia, Ibu Kota Kabupaten Puncak Jaya, apalagi diperkirakan kelompok Goliat Tabuni telah memiliki sekitar 10 lebih senjata api hasil rampasan tersebut. Untuk itu, Kapolda mengatakan bahwa saat ini pihaknya sudah meminta laporan lengkap perkembangan situasi di Puncak Jaya kepada kapolres untuk melakukan langkah-langkah selanjutnya. Ditanya apakah aksi kelompok ini tidak akan mengganggu pemilu di Puncak Jaya? Kapolda mengatakan bahwa hal tersebut tidak masalah. "Itu tidak masalah, kami akan tangani bersamaan. Satu pengamanan pemilu dan satunya lagi tindak pidananya. Tapi yang jelas, kami sudah rencanakan untuk pengamanan pemilu khususnya di daerah tersebut," katanya. Meski sejauh ini sudah terjadi 4 kali insiden yang dilakukan kelompok bersenjata tersebut, Kapolda menambahkan bahwa pihaknya belum akan menambah pasukan ke daerah tersebut.

Sementara itu terkait peristiwa penembakan oleh kelompok TPN/OPM yang mengakibatkan 2 orang warga sipil tewas, dan 2 orang luka-luka, Bupati Puncak Jaya, Lukas Enembe, S.IP sangat menyayangkan peristiwa tersebut. Bahkan Ia meminta agar pelaku dikejar hidup atau mati. Bupati Lukas mengatakan, tentu tidak lagi kita lakukan dengan pendekatan persuasive, sebab setiap tahun korban selalu berjatuhan akibat perlakuan mereka (TPN/OPM). Pihaknya, kata Enembe, bersama dengan DPRD akan memberikan mandat kepada TNI/Polri untuk melakukan pengejaran terhadap TPN/OPM hidup atau mati, karena tidak ada lagi proses pembiaran sehingga siapapun yang menggangu kedaulatan negara dan mengganggu ketertiban masyarakat, maka harus dibasmi pelaku-pelakunya hidup atau mati harus ditangkap. Namun, jelas Bupati Lukas, sebelum dilakukan  Pengejaran, maka tentu akan dilakukan pemberitahuan dalam arti kita akan berusaha untuk bagaimana rakyat lebih dulu disingkirkan dan dibersihkan dari daerah mana yang menjadi tempat mereka.
"Kami akan memberikan mandat dan legitimasi kepada TNI/Polri untuk melakukan pengejaran pelaku penembakan tersebut, sebab hal ini tidak bisa dibiarkan lagi supaya masyarakat tidak menjadi korban lagi dari mereka," tegasnya dengan nada kesal karena sudah 3 kali kejadian tersebut.

Daerah masyarakat yang akan diungsikan, ungkap Bupati Lukas, antara daerah Tingginambut di Tinggineri, Beria sampai ke Pilia dan ke Yambi, Sinak. "Bahkan Agandugume harus diungsikan dulu baru akan kita kepung mereka, sehingga wibawa pemerintah dan harga diri bupati tidak lagi diinjak oleh kelompok yang tidak bertanggungjawab ini. Kemudian setelah rakyat sudah kita ungsikan di tempat aman maka kita akan mengeluarkan surat dari dukungan Bupati dan DPRD untuk dilakukan pengejaran oleh TNI/Polri,"katanya.
Hal ini dilakukan, tambah bupati, karena pihaknya sudah membangun daerah Puncak Jaya dengan segala program pembangunan yang baik, tapi karena tindakan yang dilakukan selama ini oleh kelompok TPN/OPM semua menjadi terhambat. "Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, karena akan menghambat proses pembangunan yang sedang berjalan apalagi tahun ini kita sedang fokus kepada pembangunan di Kota Mulia,".

Hanya saja, lanjut Bupati Lukas, waktu untuk dilakukan penyerangan harus benar-benar dipikirkan, karena proses pemilu tinggal beberap hari lagi, sehingga jangan terganggu. Oleh karena itu, dalam waktu dekat ini pihaknya akan ungsikan masyarakat dulu setelah itu mempersiapkan perangkat hukumnya, karena itu yang paling penting. Menurut Bupati Lukas, sebelum proses pemilu berlangsung, maka sudah harus mempersiapkan perangkatnya baik itu aturan-aturan yang mengatur maupun aturan untuk mengungsikan.
"Sebab, kalau kita lakukan sebelum pemilu maka semua akan terganggu, oleh karena itu, setelah proses pemilu baru kita lakukan penyisiran dan sudah tentu TNI/Polri yang mempunyai strategis untuk melakukan penyisirannya. Pihaknya tetap akan memberikan mandat dan legitimasi yang sudah disusun dengan aturan hukum yang mengatur kepada TNI/Polri untuk melakukan pengejaran sehingga tidak terbentur masalah HAM,"tambahnya.

Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) melancarkan serangan terhadap pos-pos keamanan disekitar kawasan Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua,sehingga satu anggota TNI-AD dari Batalyon 754 yakni Praka Saiful Yusuf tewas, Sabtu (14/3). Korban di evakuasi korban ke Mulia, ibu kota Kabupaten Puncak Jaya.

Kapolres Puncak Jaya, AKBP Criss Rihulay mengakui, jenazah Praka Saiful Yusuf saat ini sudah dievakuasi ke Timika dengan menggunakan pesawat Skytruk milik Polri. Dari Timika jenazah korban selanjutnya dibawa ke Ambon untuk dimakamkan. Rihulay menyebutkan insiden baku tembak itu berawal dari penembakan yang dilakukan TPN/OPM terhadap pos 754 yang berada di Gurage, Jumat malam (13/3) sekitar pukul 22.00 WIT yang masuk dalam Distrik Tingginambut. Kelompok separatis ini kemudian merusak dan membakar jembatan yang menghubungkan Mulia, ibukota Kabupaten Puncak Jaya dengan Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Keesokan harinya, Sabtu (14/3) kelompok separatis bersenjata itu menembaki pos polisi dan pos TNI hingga menyebabkan jatuhnya korban anggota TNI. Ketika ditanya tentang situasi kamtibmas, Kapolres Puncak Jaya mengatakan saat ini situasi relatif aman namun aparat keamanan tetap bersiaga guna mengantisipasi segala kemungkinan. Terputusnya jembatan Gurage mengakibatkan arus lalu lintas baik barang maupun orang yang selama ini dapat dilakukan dengan menggunakan kendaraan roda empat tidak dapat dilakukan, kata Kapolres Puncak Jaya AKBP Criss Rihulay.

Bupati Puncak Jaya Lukas Enembe mengungkapkan, selain melakukan penyerangan, OPM juga merusak dan membakar jembatan Gurage yang menuju ke kawasan tersebut. Bahkan pihaknya sudah memerintahkan agar diberlakukan jam malam guna menghindari terjadinya hal-hal tidak diinginkan.

Wakil Gubernur Papua Alex Hasegem SE meminta, pimpinan TPN/OPM di Mulia Kabupaten Puncak Jaya Goliat Tabuni, untuk segera mengembalikan senjata rampasan kepada pihak Polri. Salah satu tokoh dari wilayah Pegunungan ini mengatakan, jika Goliat Tabuni bersikeras tidak mau mengembalikan senjata, Wagub mengkhawatirkan jatuh korban jiwa. “Saya minta dengan hormat agar segera mengembalikan senjata, jangan sampai Goliat-Goliat lain menjadi korban,” ujarnya kepada wartawan di VIP Room Sasana Krida Kantor Gubernur Dok II Jayapura, Selasa (10/3) kemarin. Wagub Hasegem berharap para tokoh-tokoh agama dan gereja-gereja yang melayani masyarakat di Kabupaten Puncak Jaya agar bersatu ‘membujuk’ Goliat Tabuni. “Kepada pemerintah daerah di Puncak Jaya, saya kira mereka juga harus berdialog dengan masyarakatnya. Jadi sebaiknya pro aktif untuk berusaha mengembalikan senjata itu,” ajaknya. Wagub khawatir akan jatuh korban yang lainnya jika senjata rampasan itu tidak dikembalikan. “Saya hanya khawatir kalau polisi dengan TNI yang cari sendiri. Kalau itu, berarti akan ada Goliat-Goliat yang tenang hidup aman di kampung, akan jadi korban. Kalau Goliat mau itu, silahkan ko tahan terus. Kalau tidak sebaiknya Goliat, ko kasih pulang baik-baik melalui Tokoh Agama dan Adat yang bisa ko ketemu untuk komunikasi dengan mereka,”tandasnya. Menyoal ancaman boikot Pemilu oleh Goliat Tabuni, Wagub mengatakan tidak ada masalah jika yang memboikot hanya pihak Goliat Tabuni.“Ya kalau Goliat tidak ikut Pemilu tidak apa-apa. Tapi jangan dia menghasut. Itu yang tidak boleh. Goliat tidak ikut tidak pusing, karena dia rakyat yang mengasingkan diri jadi tentu dia tidak ikut Pemilu,” cetus Hasegem
Polda Papua terus menindaklanjuti serangkaian kasus yang dilakukan kelompok separatis bersenjata (TPN/OPM), pimpinan Goliat Tabuni di Kabupaten Puncak Jaya, Papua. Bahkan tidak tanggung-tanggung, kini Polda Papua telah menetapkan sedikitnya 10 orang anggota TPM/OPM, masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Polda Papua telah mengirimkan tim penyidik dari Reskrim untuk melakukan penyelidikan, terkait kasus tersebut. Polisi juga telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) terhadap penanganan kasus penembakan terhadap 2 orang tukang ojek hingga tewas dan 2 penumpangnya di Kali Semen, Puncak Senyum, Distrik Mulia, Puncak Jaya beberapa hari lalu. Plh Kepala Bidang Humas Polda Papua, AKBP Nurhabri mengakui, dari olah TKP tersebut, polisi berhasil menemukan 4 selonsong peluru yang diperkirakan dimuntahkan dari senjata milik TPN/OPM, dimana 1 selonsong peluru diketahui jenis AK 47, 1 selongsong peluru SS1 dan 2 selonsong peluru moser. "Masih ada penemuan 3 selonsong peluru lagi di TKP, namun saya belum mendapatkan laporan dari Puncak Jaya jenis pelurunya tersebut. Yang jelas, peluru tersebut dimuntahkan dari senjata milik TPN/OPM pimpinan Goliat Tabuni dari hasil rampasan," Terkait penembakan terhadap anggota Pos TNI 745 di Gurage, Ia mengungkapkan bahwa polisi saat ini masih melakukan pencarian terhadap pelaku dari kelompok bersenjata pimpinan Goliat Tabuni. "Jelas, kami akan melakukan penyelidikan dan pencarian serta berupaya melakukan penangkapan terhadap pelaku dalam upaya penegakan hukum terhadap mereka," ujarnya. Meski demikian, dalam upaya pencarian terhadap pelaku kelompok bersenjata tersebut, polisi tetap melakukannya secara profesional dan tidak gegabah yang justru dapat merugikan masyarakat atau polri sendiri. Nurhabri mengungkapkan, pelaku penyerangan dan penembakan terhadap anggota TNI Yonif 745 saat melakukan patroli di Gurage tersebut, diperkirakan berjumlah 10 orang. Dalam kasus ini, Polda Papua juga telah menyebarkan 10 orang yang menjadi DPO (daftar pencarian orang) di Puncak Jaya, dalam kunjungan Kapolda Papua beberapa hari lalu. "Kami telah sebarkan 10 orang DPO yang diduga juga melakukan penyerangan terhadap 4 warga sipil hingga menewaskan 2 orang warga, penyerangan dan penembakan pos pol, pencabutan dan pembakaran bendera merah putih, penembakan terhadap anggota Pos TNI 745 di Gurage," Ditambahkan bahwa jika ada yang menemukan salah satu diantara 10 orang tersebut, akan diberi hadiah sebesar Rp 10 juta. (Dikutip dari website poldapapua.com )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar