Loading...

Jumat, 06 Februari 2015

Inilah Kelompok OPM di Puncak Jaya Papua



Wilayah Kabupaten Puncak dan Puncak Jaya sudah lama dikenal sebagai daerah operasi kelompok sipil bersenjata yang memperjuangkan Papua merdeka. Dua hari terakhir ini, daerah ini kembali membara. Delapan anggota TNI dilaporkan tewas dalam serangan kelompok ini kemarin (21/2/2013). Pagi ini, kelompok yang sama juga menembaki Helikopter jenis MI 17 milik TNI yang hendak mengevakuasi 8 anggota TNI yang tewas itu.
Pemberitaan sejumlah media asing tentang aksi penyerangan di Distrik Sinak dan Tingginambut itu menyebut pelakunya adalah ‘Gunmen’.
Kelompok penyerang ini memiliki senjata api dari hasil rampasan milik aparat keamanan (Polri dan TNI) yang bertugas disana. Namun menurut mantan Bupati Puncak Jaya, Lukas Enembe (sekarang calon Gubernur Papua terpilih), senjata mereka bukan saja dari hasil rampasan tetapi dikirim dari daerah-daerah lain di Papua.

“Ya karena memang disini pusat perjuangan bersenjata mereka,” Tutur Lukas dua tahun lalu ketika dirinya masih menjadi kepala daerah di wilayah yang penuh konflik ini.


Merujuk pada keterangan pers Menkopolhukan Djoko Suyanto kemarin petang, diketahui bahwa pelaku penyerangan yang telah menewaskan 8 anggota TNI di Puncak Jaya itu ada dua kelompok, yaitu kelompok Goliat Tabuni dan Militer Murib.
“Kalau di Tingginambut selama ini kita tahu ada kelompok pimpinan Goliath Tabuni, dan untuk wilayah Sinak biasanya ada kelompok Yambi di bawah pimpinan Militer Murib yang sering beroperasi. Hanya saja belum bisa kami pastikan. Pengejaran terus dilakukan,” kata Kapendam Cenderawasih Letkol Jansen Simanjuntak.
Goliat Tabuni saat ini adalah mengklaim diri sebagai Panglima tertinggi TPN-OPM dengan pangkat ‘Jendral’. Klaim itu berdasarkan hasil KTT TPN-OPM pada 1-5 Mei 2012 di Biak. KTT sepihak itu juga mengangkat sejumlah orang untuk mendampingi kepemimpinan Goliat, yaitu ‘Letjen’ Gabriel Melkizedek Awom sebagai Wakil Panglima TPN-OPM dan ‘Mayjen’ Teryanus Satto selaku Kepala Staf Umum, serta Seblon Sambom sebagai Kapuspen.
Pengangkatan Goliat Tabuni ditentang oleh kelompok OPM lainnya pimpinan Purom Okiman Wenda. Purom menyebut dirinya juga ‘Jendral’ yang memiliki seribu lebih anggota yang ‘berkuasa’ di Distrik Pirime. Ia menuding Goliat Tabuni tidak lagi berjuang untuk Papua merdeka, tetapi untuk kepentingan lain. Kelompok Purom mengaku bertanggung jawab atas penyerangan Mapolsek Pirime pada 27/11/2012 yang menewaskan tiga anggota Polsek tersebut. http://tabloidjubi.com/?p=4844
Kelompok OPM lainnya adalah kelompok Lambert Pekikir yang beroperasi di wilayah perbatasan RI-PNG, di Kab. Keerom. Salah satu aksi kelompok ini antara lain menembaki mobil patroli TNI yang melewati wilayah ‘kekuasaan’ mereka, antara lain terjadi pada 1 Juli 2012. Sebelumnya, pada 2008, kelompok Lambert juga pernah menyerang rombongan Batalyon 509 yang sedang patroli di sekitar Kampung Wembi. Anggota TNI itu dibantai, dan senjatanya dirampas.
Kalau Goliat Tabuni mengukuhkan kepemimpinannya melalui KTT, sebaliknya Lambert Pekikir saat ini sedang mempersiapkan Konferensi Tingkat Daerah untuk melakukan pembenahan internal. Menurutnya, pembenahan internal itu sudah sangat mendesak karena organisasi TPN-OPM saat ini sudah semrawut akibat munculnya kelompok-kelompok (OPM) buatan.
“…Kami akan mendahulukan Pembenahan struktur kepemimpinan dalam tubuh TPN-OPM dan melakukan pendataan korban yang telah jatuh akibat konflik di Tanah Papua ini,” ujar Lambert.
Bukan Musuh tetapi Sahabat yang tertunda
Mengutip pernyataan calon Gubernur terpilih Papua, Lukas Enembe, Negara perlu ikut terlibat dalam menangani masalah di Puncak Jaya, karena ini sudah menjadi masalah kedaulatan Negara. Kelompok sipil ini terus berkembang dan menjadi ancaman.
“Kalau hanya perang suku, saya sendiri bisa menyelesaikan,” ujar Lukas.
Saya sengaja menyebut beberapa kelompok TPN-OPM di atas, bukan untuk menjadikan mereka target pengejaran aparat keamanan. Mereka tidak lagi menyembunyikan keberadaan mereka. Karena mereka sering berbiacara secara terbuka di media, bahkan sering melakukan jumpa pers.
Tujuan saya, kalau memang Pemerintah sudah berkendak baik untuk merajut upaya damai di Tanah Papua, mempercepat pembangunan, memperhatikan keistimewaan dan kekhususan Papua, maka rangkullah mereka dengan cara-cara yang bermartabat. Bagaimanapun juga mereka adalah saudara kita. Kata orang bijak, mereka bukanlah musuh untuk diperangi, tetapi sahabat yang sedang ‘tersesat’ dan membutuhkan bantuan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar